Saturday, August 27, 2011

Siap Gak Siap Kamu Harus Jadi PEMIMPIN

Menjelang Iedul Fitri di bulan Agustus 2011, saya masih di Sorowako, Sulawesi Selatan. Bersama saya, seorang engineer muda, seorang scheduling engineer dan seorang construction manager, orang India, yang baru datang. Entah kenapa Kantor Pusat Jakarta itu mengirim orang yang jelas tidak akan bekerja sampai masa liburan Lebaran selesai. Saya tidak terpengaruh perasaan sepi seperti yang dikatakan seorang anggota sebelum pulang. Dia merasa bahwa hatinya sudah duluan pulang ke Purwokerto, sementara badan dan pikirannya yang tertinggal di Sorowako bergerak seolah tidak ada yang mengendalikan, konsentrasi sering terganggu karena pikiran terhadap pekerjaan sudah lenyap terbawa hati yang sudah duluan berangkat mudik. Seburuk itukah ? Yes that is the fact that I saw by my own eyes.

Jadi apa yang hilang dari orang itu ? Jawabannya adalah hati atau emosi atau passion atau spirit atau apapun kata yang cocok untuk menyebutkan bagian/sisi dalam kita yang tidak kelihatan itu. Ternyata hilangnya hati akan merambat ke atas, membuat pikiran tidak konsen bekerja dan aktivitas fisik menjadi loyo, mata ngantuk terus, kerjaan yang sudah biasa dikerjakan dengan mudah jadi salah melulu. Wah, bagaimana kalau orang itu posisinya sebagai pemimpin ? Dijamin grup yang dipimpinnya jadi terbawa loyo, karena pikiran yang sudah terlanjur jadi negatif itu akan menarik pikian negatif lainnya. Hanya seorang pahlawan yang berani kudeta yang bisa menyelamatkan grup atau tim yang bossnya sudah loyo, dan dia bakal jadi pimpinan baru. Jangan ragu untuk mengambil alih pimpinan dalam grup yang sudah loyo, itu kesempatan baik untuk naik lho.

Jadi untuk dapat mengambil alih kepemimpinan, lalu lanjut jadi pemimpin berikutnya itu bagaimana ? Ya pertama kali tentulah jangan pernah kehilangan spirit atau emosi atau passion atau semangat. Jaga supaya uang atau mobil gak ilang mungkin mudah, semuanya kelihatan, tinggal kita berani bayar berapa beli alat, deposit box atau alarm untuk menyimpan atau menjaganya. Tapi menjaga spirit supaya tetep nempel itu susah. Jadi menjadi pemimpin yang bener itu susah. Tetapi apapun susahnya, pemimpin itu sebagian dilahirkan, sebagian lagi diwariskan, dan yang lebih banyak diciptakan melalui pembelajaran yang terus menerus tanpa henti.

Jadi pemimpin itu tidak akan pernah memberi kesempatan kepada yang namanya loyo, gak semangat, lesu dan sebagainya masuk ke dalam dirinya, jadi dia harus menjaga spiritnya/emosinya/pasionnya tidak terkalahkan dulu sebelum bertindak memimpin.

Apa saja sih yang harus dijaga :

1. Motor pemutar spirit/semangat/spirit.

Jika kita analogikan semangat itu dengan kipas angin, jangan biarkan kiipas itu mati motornya sehingga fan berhenti berputar. Pemimpin harus penuh semangat, menjaga agar energinya selalu tinggi jangan biarkan habis dan siap setiap saat. Memiliki energi yang selalu tinggi harus kita tunjukkan dengan tindakan dan upaya yang keras dan tekad pantang menyerah.

2. Keinginan kuat untuk membimbing/mempengaruhi orang.

Ingat anda itu pemimpinnya, gimana jadinya kalau pemimpin gak diikuti sama anggotanya ? Jadi pertama harus dipunyai pemimpin adalah keinginan untuk mempengaruhi orang yang dipimpinnya dan harus punya kemauan untuk belajar untuk terus meningkatkan kemampuannya untuk bisa mempengaruhi orang lain. Pemimpin harus bisa berpolitik, karena dasar ilmu politik adalah adanya orang yang mau memimpin dan orang yang mau dipimpin. Namun disamping itu pemimpin juga harus siap untuk bertanggung jawab terhadap efek atau akibat dari langkah-langkah yang diambil. Jangan sampai kita mempengaruhi orang untuk mengikuti kamauan kita, tapi kalau salah menghindar alias kabur, ke luar negri lagi. Wow !

3. Melebur dalam kelompoknya.

Saya sulit menemukan kata yang tepat untuk judul butir ini (maklum penulis yang masih amatiran). Yang pasti, seorang pemimpin itu mau tidak mau, suka tidak suka harus lebih mementingkan kelompoknya, mementingkan keutuhan kelompoknya di atas kepentingan pribadinya, ya ... ketemu, mungkin istilahnya harus siap berintegritas. Apa yang dikatakan sedapat mungkin selaras dengan apa yang diperbuat, tidak mencla-mencle sehingga outputnya pemimpin akan dijadikan panutan oleh anggotanya karena memang dia mampu untuk menjadi panutan.

4. Percaya diri yang tinggi.

Seorang pemimpin tentunya harus punya dan selalu menjaga kepercayannya kepada dirinya sendiri. Lha kalau pemimpinnya tidak percaya sama dirinya sendiri, gimana orang lain akan percaya sama dia. Jadi dia harus terus menerus melatih "iweekang" nya sehingga makin kuat. Iweekang, istilah dari kalangan 'kang auw' (dunia persilatan) adalah tenaga dalam. Jaman sekarang tenaga dalam itu identik dengan pengetahuan dan kematangan diri. Pengetahuan terus ditambah dan dilatih sehingga semakin dalam pengetahuannya dan semakin matang mentalnya, mantap tindakannya, penuh kepercayaan diri tinggi yang terpancar dalam setiap tindakannya. Kepercayaan diri yang tinggi akan lebih dapat meyakinkan anggotanya sehingga mereka tidak ragu-ragu dalam bekerja.

5. Kemampuan menganalisis.

Memiliki kemampuan mengumpulkan dan mengelompokan informasi yang diterima, menginterpretasikan dan menganalisis informasi tersebut untuk membuat keputusan yang tepat. Ini tentunya sangat tergantung dari pengalaman, jadi selalu ambil kesempatan untuk menyemplungkan diri ke dalam masalah akan mempercepat bertambahnya pengalaman. Efeknya akan
menaikan tingkat kemampuan menganalisis beragam informasi sehingga lebih cepat dan mudah memecahkan masalah dan memberikan solusi. Jangan lupa pemimpin tidak hanya sekedar memecahkan masalah dan mengambil keputusan, tetapi lebih dari itu membangun visi kelompok.

6. Punya pengetahuan yang relevan dengan pekerjaan dan berorganisasi.

Tentu saja pemimpin wajib tahu dasar-dasar pengetahuan membangun dan mempertahankan organisasi dan pengetahuan dari pekerjaan yang ditangani atau digeluti organisasi tersebut. Bagaimana bisa memimpin organisasi jika tidak faham cara berorganisasi, apa lagi tidak punya pengetahuan tentang bisnis dari organisasi yang dipimpinnya, bisa celaka coy. Jadi jangan pernah berhenti belajar, penguasaan yang mendalam dalam bidang yang ditangani kelompok akan menambah 'iweekang' seperti yang disebut di butir #4 di atas.


Keenam butir di atas adalah sisi dalam atau spirit atau pasion yang harus selalu diasah, jangan berhenti belajar, lalu diamalkan atau dipraktekan. Buat apa paham atau mengerti atau bisa, tetapi tidak dipraktekan dalam tindakan sehari-hari.

Sebenarnya yang harus dilakukan pemimpin itu tidak banyak hanya 5 item di bawah ini :

1. Membangun visi atau kerennya membangun mimpi.
2. Membangun team untuk melaksanakan/merealisasikan visi tersebut.
3. Membagi-bagi pekerjaan kepada anggota sesuai bidangnya.
4. Jangan lupa jika team sudah dibangun, juga harus membangun kemampuan anggota.
5. Memotivasi pengikut, untuk terus berkarya.


Begitulah sekilas trik membangun sisi dalam atau spirit seorang pemimpin sebelum dia bisa bertindak dengan tegar dan penuh percaya diri membimbing anggotanya menuju visi yang ditetapkan sebelumnya dan tentunya meraih hasil sesuai tolok ukur keberhasilan yang tentunya sudah diputuskan juga sebelumnya.

Sorowako, 28 Agustus 2011.




No comments:

Post a Comment